Kisah Jenderal Kopassus Penggotong Peti Ahmad Yani yang Gagal Long March 500 Km ke Nusakambangan

Fahmi Firdaus
Kisah Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang sempat gagal menuju Nusakambangan, Cilacap saat menjalani pendidikan pasukan khusus. (Foto: Ist)

Setelah gagal menjalani pendidikan dasar komando, Soegito ditunjuk menjadi staf Mayor Inf Gunawan Wibisono, teman satu letting Mayor Inf Benny Moerdani. Ketika itu Mayor Gunawan sedang melakukan penelitian terkait peralatan dan prosedur. Sebagai staf, Lettu Soegito melaksanakan sepenuhnya program yang tengah dijalankan komandannya.

Di antaranya membantu riset untuk melihat kenyamanan penggunaan senapan jika ditambahkan peredam (silencer). Setelah itu kembali dilakukan riset tentang airdrop resupply alias penerjunan untuk mengirimkan bekal ulang siang dan malam hari.

Riset sekitar dua minggu ini dilaksanakan di Lanud Halim Perdanakusuma dengan dropping zone (DZ) di sisi timur Halim yang berdekatan dengan lapangan golf. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Gagal latihan komando, namun malah memberikan kesempatan kepada Soegito untuk menambah jam terjun.

Sebagai salah seorang perwira yang bertanggung jawab dalam riset penerjunan, mau tidak mau ia harus total selama proses penelitian supaya bisa memberikan laporan lengkap kepada atasannya.

Di akhir riset, Soegito menyerahkan laporan hasil kegiatan kepada Mayor Gunawan. Saat membantu Mayor Gunawan dengan riset-risetnya inilah, Soegito mendapat perintah untuk membantu pemakaman tujuh Pahlawan Revolusi di TMP Kalibata pada 5 Oktober 1965.

Peristiwa pemakaman ini dikenang sebagai peringatan HUT TNI paling menyedihkan karena bertepatan dengan pemakaman para pahlawan revolusi. Dalam upacara itu, kebetulan sekali Soegito mendapat bagian menggotong peti jenazah Jenderal Ahmad Yani. 

Baru saja selesai menjadi staf Mayor Gunawan, datang lagi perintah untuk membantu Mayor Inf Heru Sisnodo di Pusdik RPKAD di Batujajar. Perintah itu pun kembali dijalankan oleh Soegito.

"Dek Gito, nanti kalau mau latihan komando lagi, bila perlu apa-apa bilang saja kepada saya. Sekarang ikut saya jam terjun, sekalian nanti free fall," ujar Mayor Heru yang akrab disapa Soegito dengan panggilan Mas Heru.

Dengan membantu Mayor Heru, jam terjun Soegito semakin bertambah banyak. Anehnya Mayor Heru, kepada Soegito yang nyata-nyata mengikuti pelatihan komando malah diberi tugas merevisi kurikulum latihan komando. Tentu saja Soegito keberatan, yang sayangnya ditanggapi Mayor Heru dengan mengalihkan pembicaraan terkait rencana-rencana penerjunan. "Besok saya terjun, ikut ya,"ucapnya.

Dari kegiatannya membantu Mayor Gunawan dan Mayor Heru, Soegito mengalami peningkatan jumlah jam terjun yang sangat signifikan.

Editor : Arbi Anugrah

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network